Selasa, 29 Oktober 2013

Sudah jatuh, ketiban “anu”

Gambar dari catatankamis.blogspot.com  
Tersebutlah di suatu desa, orang sombong yang pelit bin koret buntut gasir. Tak pernah ia memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Ia memang terkenal sebagai orang yang sombong bin pedit di kampungnya.

Para tetangga, mulai tetangga dekat hingga tetangga jauh sudah tahu persis tingkah laku dan kesombongan serta kekikiran orang itu. Dengan harta yang tak seberapa memang dan tempat tinggal yang ala kadarnya namun orang itu selalu menyombongkan diri sebagai orang yang berpunya di kampungnya. Mulutnya yang sering membual sering membuat mual para pendengarnya.

Orang sekampung mencibirnya manakala ia menyombongkan diri di depan mereka. Tak bosan-bosannya ia membicarakan kekayaaannya yang konon bermilyar-milyar jumlahnya. Suatu kali ia berkata bahwa ia punya tabungan deposito di bank tertentu dalam bentuk emas batangan. Lalu di lain waktu ia pun menceritakan tabungannya di bank negara lain untuk simpanan masa depan katanya. Para pendengarnya tak menghiraukan apa pun yang ia bicarakan.

Huh…. Hanya meng-aku-aku saja tak ada bukti. Nihil. Padahal tetangganya pun tahu persis apa yang selalu ia konsumsi tiap hari. Makan di warung nasi yang murah demi menghemat alias pelit. 

Sungguh sombong dan pelitnya orang itu sudah menjadi rahasia umum di kampungnya.

Suatu ketika, Ia mengendarai motor yang ia banggakan sebagai motor barunya, padahal tak lain hanyalah motor pinjaman. Dasar orang sombong. Tapi begitulah ia adanya, sombong. Dengan bangganya ia mengendarai motor tersebut.

Dan ketika melewati para tetangga yang sedang berkumpul di salah satu rumah warga ia memacu motor pinjamannya itu dengan kecepatan yang lebih sambil bersenandung. Ngengggg……….. lalu brukkkkk, ia terjatuh karena menabrak sebuah pohon di belokan ujung jalan. Kontan saja para tetangga yang dari tadi geleng-geleng kepala melihat tingkahnya segera melihat suara yang terdengar cukup kencang itu.

Kasihan orang sombong itu, ia tergeletak di ujung jalan itu tertimpa motor yang dibanggakannya sampai akhirnya ada warga yang datang menolongnya.

Sekilas ada warga yang melihat seekor burung melintas di atas orang sombong itu sambil membuang kotorannya….


Flag Counter