Senin, 29 Juli 2019

Cara Membuat bawang goreng yang krispi

Bawang goreng

Kemarin itu saya membuat sayur sop, lalu sebagai tambahannya atau sebagai taburan di atasnya saya pakai bawang goreng yang krispi. Jadi, kemarin saya membuat bawang goreng yang krispi untuk menambah nikmat rasa sayur sop itu.

Ini kadang-kadang saja saya lakukan. Kadang-kadang saya membuat bawang goreng kalau memasak sayur sop. Ga susah dan cepat juga membuatnya.

Ini dia bahan-bahan yang mesti disiapkan.
  • Bawang merah
  • Garam
  • Minyak goreng

Cara membuatnya:
  • Pertama-tama kupas kulit bawang merahnya lalu sisihkan
  • Tambahkan garam secukupnya ke bawang merah tadi
  • Aduk-aduk hingga merata
  • Setelah itu goreng hingga berwarna kekuningan
  • Angkat lalu tiriskan dengan menggunakan tisu
  • Masukkan ke dalam toples setelah uap panasnya hilang
  • Dan bawang goreng pun siap untuk digunakan

Kamis, 18 Juli 2019

Sayur sop santan atau sayur kuning

Sayur Sop Bersantan

Sepertii biasa, memasak merupakan salah satu rutinitas sehari-hari  saya selain yang lainnya. Nah, untuk hari ini saya ada rencana untuk memasak sayur sop santan atau sayur kuning. Dikatakan sayur kuning karena menggunakan sedikit kunyit sehingga warnanya menjadi agak kuning.

Sepaket sayur sop sudah ada di kulkas karena saya  membelinya kemarin, jadi hari ini saya ke tukang sayur hanya membeli sepotong tempe dan seperempat kelapa segar.

Langsung saja ya, ini dia bahan-bahannya:
  • Satu paket sayur sop yang isinya kol, buncis, daun bawang, daun seledri, wortel dan kentang
  • Daun salam
  • Lada halus
  • Minyak untuk menumis
  • Santan kelapa
  • Tempe
  • Garam
  • Penyedap rasa

 Bumbu yang dihaluskan:
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • kunyit

Sabtu, 13 Juli 2019

Tiap Hari Lewat Tapi Ngga Ngeh

Kemarin rasanya sudah ditulis, tapi dicari-cari kok ya ga ada, ga ketemu. Yo wis, kemungkinan kemarin itu lupa disimpan, jadi ga ada di file. Mau tulis hal yang sama kok ya udah ilang moodnya alias males he he he…

Tak ingat-ingat lagi ya ceritanya yang kemarin udah ditulis itu.

Itu tuh tentang perbedaan yang kami rasakan mengenai tempat tinggal sebelum ini dengan yang saat ini. Antara di daerah Cirendeu,  Ciputat Timur dengan daerah Rempoa, bintaro, pesanggrahan, Jakara Selatan.

Ga heboh sih, ini kan cuma pendapat saya aja, ini subjektif banget sifatnya.

Perbedaan yang menurut saya penting. Tapi kalau menurut orang lain sih, ya saya ga tau. Pastinya sih ga ada penting-pentingnya ya. Ha ha ha…

Salah satu perbedaan bagi saya adalah mengenai penjual sayur yang saya dapati kurang banyak di banding dengan keberadaan penjual sayur di Cirendeu. Kalau di Cirendeu mah penjual sayurnya gampang di temukan dan lebih banyak jumlahnya di banding di Rempoa ini. Lagi-lagi ini Cuma pendapat saya dan bagi saya aja lho.

Kemungkinan bagi yang tinggal di Rempoa sudah lama tidak merasakan hal itu. Maklum saya orang baru di Rempoa ini. Selain jumlahnya yang kurang, lokasinya pun agak berjauhan dan berlawanan arah.

Yak, ini cuma pendapat saya, ini cuma yang saya rasakan saja ya. Mohon jangan ada yang tersinggung dengan pendapat saya ini, he he he.

Kamis, 11 Juli 2019

Pada Mu


Terima kasih
Tak terhingga
Rasanya tak cukup
Jua

Teramat banyak
Tak terhitung
Berkah dari Mu

Tak terbayangkan
Hal kecil
Pun hal-hal besar 

Selasa, 02 Juli 2019

Tempat Meditasi Jakarta


“Sepi amat kayaknya hidup gua Sat”. suatu hari Santo mengeluh pada sahabatnya. Saat itu mereka duduk-duduk menikmati suasana sore hari di balkon belakang kamar Satria.

“Coba kamu telusuri San, apa yang kurang atau yang belum kamu lakukan.” Satria menjawab sambil meneguk segelas teh manis yang ada di hadapannya.

“Sesuatu yang ingin kamu lakukan tapi belum kamu lakukan.”Satria masih menambahkan.
“Tapi tentu saja sesuatu yang baik ya bukan hal yang buruk  dan pastinya ga ngerugiin siapa pun juga.”

Angin sepoi-sepoi menjadi saksi obrolan mereka sore yang cerah itu.

“Wah.. kalau itu sih banyak Sat. Gua pengen ngerjain banyak hal yang menurut gua baik tapi belum gua kerjain lantaran masih banyak kendala.” Santo ikut meneguk teh manis yang disuguhkan.
“Kendalanya pasti lu tau lah, selain dari sisi keuangan ada juga sisi mental. Gua ga cukup berani melakukan hal-hal itu.” Santo masih melanjutkan.

Sesekali terdengar suara pedagang makanan yang lewat menjajakan dagangan mereka.

“Mungkin kamu mesti mencoba mulai menyelami diri San.” Satria memberi sebuah solusi.
“Menyelami diri bagaimana Sat? emangnya diri gua ini kolem yang bisa diselami?” Santo agak guyon memandang wajah sahabatnya itu.

Yang dipandang malah mencibir.

“Wa ka ka ka ka ka …” Garing tuh San
Flag Counter