Senin, 23 April 2012

The Lady, sebuah film seorang perempuan menegakkan demokrasi di negerinya


Hari Minggu kemarin kami memiliki kesempatan untuk nonton sebuah film keluaran baru. Film dalam format dvd itu sudah kami miliki beberapa minggu yang lalu namun belum sempat ditonton. Al-hamdulillah – puji Tuhan kami bisa menontonnya kemarin.

Awalnya agak pesimis juga dengan film tersebut karena bahasa yang digunakan oleh pemain awal adalah bahasa yang tak kami mengerti. Tapi kami terus menontonnya karena menurut mbah Google film tersebut adalah kisah nyata kehidupan seorang wanita pejuang demokratis di negaranya.

Ya, ialah Aung San Suu Kyi.

Digambarkan bahwa ayahnya adalah salah seorang tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya, Burma dari penjajahan Inggris. Namun akhirnya sang ayah dibunuh oleh sangannya.

Film ini bertutur mengenai perjuangannya melawan rejim militer yang berkuasa. Benar-benar kami tak habis pikir kenapa ada orang-orang yang beringas, membunuh sesame dengan brutal tak berperikemanusiaan.

Aung San Suu Kyi yang telah menikah dengan seorang berkebangsaan Inggris dan memiliki 2 orang putra, kembali ke negaranya pada tahun 1988 setelah sekian lama menetap di Negara lain. Ia bermaksud merawat ibunya yang sedang sakit.

Namun demi melihat nasib bangsanya yang diperlakukan semena-mena oleh rejim yang berkuasa, maka ia pun berubah niatan untuk menetap dan merubah nasib bangsanya itu. Ia memperjuangkan demokrasi yang berperikeadilan dan menghargai hak-hak asasi manusia.

Hal ini menyebabkan ia dijadikan tahanan rumah karena dianggap berbahaya oleh rejim pada saat itu. Dan demi bangsanya ia rela tidak meninggalkan Burma walaupun sang suami sedang sakit parah dan akhirnya meninggal.

Sang suami telah berupaya dengan bantuan sejumlah Negara untuk mendapatkan visa kunjungan ke Burma namun selalu ditolak oleh pemerintah Burma.

Sebuah film yang layak ditonton bagaimana seorang perempuan berjuang demi bangsanya dengan cara tanpa kekerasan. Pada tanggal 13 November 2010 ia akhirnya dibebaskan dari statusnya sebagai tahanan rumah.

Sungguh sebuah perjuangan suci.

Terima kasih untuk hari ini….

Image: Google search
Flag Counter