Sabtu, 19 Januari 2019

Puisi untuk Bapak Anand Krishna


Minggu pagi yang sudah kelewat itu, Satria sedang asyik menikmati sarapan pagi yang tentu saja sudah terlambat. Maklum hingga larut malam ia berkutat dengan pembuatan konten video untuk akun youtubenya. Alhasil ia bangun kesiangan, tatkala jam di dindingnya menunjukkan pukul 8, ia baru bangun.

“Wah.. asyik bener tuh bubur ayamnya!” Tau-tau Santo muncul di hadapan Satria yang tengah sarapan bubur ayam sambil menonton tv.

“Iya nih San. Kalo kamu belum sarapan, gih pesan aja sana. Sekalian bayarin nih, aku juga belum bayar.” Santai Satria menjawab sambil mengulurkan tangannya dengan selembar uang Rp. 20.000

Bergegas Santo memesan bubur ayam dengan mangkok legendaris – berlogo ayam jago.

“Bang, jangan pake ayam, daun bawang dan kacang yah!” Santo memesan seraya  memberikan mangkoknya ke penjual bubur ayam itu.

“Siap mas!” Si penjual bubur menjawab mantap.

Keduanya pun menikmati bubur ayam di pagi yang telah terlewat itu di ruang tengah sambil menyaksikan acara tv.

“Eh San, kok pagi-pagi kamu ke sini? Jangan bilang kamu mau numpang sarapan yah!” Satria mulai bertanya.

“Lha... kan lu tau itu. Ha ha ha... itu alasan pertama Sat.” Santo menjawab dengan tertawa.

“Lantas, alasan lainnya apa, San?” “Aku mulai curiga nih!” Satria menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. 

“Alasan kedua yaitu gua mau nitip puisi Sat...”

“Baru juga seminggu putus dari si Rina, sekarang kamu udah mulai pedekate ama cewek lain... Wah... kamu tuh ga berubah ya San, dari jaman Es Em A sampe sekarang masih aja begitu.” Belum selesai Santo mengungkapkan alasannya, Satria sudah menyambarnya dengan pernyataannya itu sambil geleng-geleng kepala.

“Mau nitip buat siapa tuh puisi? Buat si Dina, Rika atau si Olivia?” Satria menyebutkan beberapa nama.

Bubur ayam di mangkok mereka sudah hampir habis, namun pembicaraan mereka masih berlangsung.

“Memang kamu pantas dijuluki playboy, San. Dan sepertinya kamu nyaman dengan julukan itu.” Satria masih melanjutkan.

“Gua tuh bukannya playboy, Sat. Tapi lebih kepada pencari cinta, love seeker, seeking for love.” Santo berkelit dengan raut wajah yang serius disertai suapan buburnya yang terakhir.

“Gaya mu tuh, San... ga usah banyak alesan.” Sambil tertawa Satria mencibirnya.

“Jangan berburuk sangka dulu dong, Sat. Berarti lu belum baca email yang gua kirim tadi malem yah. Gua mau nitip puisi untuk Bapak Anand Krishna, bukan untuk ke tiga nama cewek yang lu sebut tadi, Sat.” Santo menjelaskan serius.

“Serius kamu? Aku memang belum sempat cek email dari tadi malem. Langsung aja dah aku cek sekarang.” Satria menjawab sambil beranjak dari duduknya untuk mengambil laptop di kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Satria sudah mengecek email di laptopnya.

“Wih... keren juga puisinya, San. Gak nyangka playboy kayak kamu bisa juga bikin puisi kayak gini.” Sambil mengacungkan jempol Satria berujar.

“Tapi... aku ga bisa kasih puisi ini langsung ke beliau San.” Dengan nada agak sedih Satria berkata.

“Lha... ga pa-pa Sat, Lu kan punya blog dan akun twitter. Lu posting aja di blog, lalu share di akun twitter lu sambil mention akun beliau. Kan Bapak Anand Krishna juga punya akun twitter?” Santo memberikan solusi yang jitu.

“Ide yang cerdas itu, San. Tapi... bagaimana kalau akun twitter itu bukan beliau yang pegang San, melainkan dikelola oleh admin?” Satria mulai ragu.

“Kalaupun dikelola oleh admin, gua sih yakin kalau beliau akan membacanya.” Santo menjawabnya dengan pe de.

“Baik, aku akan posting dulu di blog aku trus share di twitter dengan mention akun beliau. Walaupun akun beliau dikelola oleh admin, mudah-mudahan beliau berkenan untuk membacanya.” Dengan semangat, Satria mulai membuka blognya untuk kemudian memposting puisi yang dimaksud.

Tak beberapa lama kemudian, postingan di blog Satria pun bertambah dengan artikel yang berjudul


Puisi untuk Bapak Anand Krishna


Di tengah hiruk pikuk kehidupan
Kau muncul ke permukaan
Ah... aku saja yang baru tersadar
Bahwa dari waktu ke waktu pintu hatimu
senantiasa terbuka lebar

Bapak Anand Krishna
Namamu menggema
Di relung-relung jiwa nan terkesima
Betapa kasihmu luas tak terhingga

Bapak Anand Krishna
Di segala kesempatan
Kau berbagi pengalaman
Berbagi kesadaran

O... Bapak Anand Krishna
Buku-buku dan karyamu sungguh mempesona
Membantu sungguh dalam menjalani
Keseharian di dunia penuh samsara

Bapak Anand Krishna
Kau bagaikan mutiara tak ada tandingnya
Walau ditolak dan dicelakai
Tidak berkurang sinarmu walau seinci

Bapak Anand Krishna
Tak cukup rasanya rasa terima kasihku
Namun dengan puisi ini
Mungkin bisa mewakili

Bapak Anand Krishna
Nama yang indah di antara sekian banyak nama
Semoga senantiasa terpancang
Dan terngiang-ngiang di relung jiwa
Hingga aku bersua dengan Sang Dewa Yama



Santo

Jakarta, Januari 2019


Flag Counter