Rabu, 31 Oktober 2012

Di kala sulit


 “haruskah aku menjualnya? Tapi… aku tak punya apa-apa lagi kecuali cincin ini,”

Sebuah cincin emas ada dalam genggaman Mitra. Ia menggenggam benda itu erat-erat. Sudah sekian lama ia memiliki cincin itu yang ternyata adalah pemberian ibunya menjelang kepergiannya ke alam “sana”.

Mentari siang itu bersinar dengan teriknya padahal sudah masuk bulan Oktober akhir yang seharusnya sudah memasuki musim penghujan. Akhir-akhir ini  memang cuaca tidak bisa diperkirakan sepertinya bumi memang sudah sangat tua sehingga perubahan musim yang biasanya teratur kini tidak lagi.

Apakah karena bumi sudah pikun? Sehingga lupa kapan musim penghujan dan kapan musim kemarau he he he… tapi bukan itu alasannya yang tepat.

Perubahan iklim yang kian hari kian berubah cepat itu dikarenakan adanya global warming atau pemanasan global. Meningkatnya suhu bumi menimbulkan banyak masalah dan kita sudah mengetahui bahkan merasakannya tiap hari di belahan bumi manapun. Yah, tak menentunya musim juga salah satu hal yang disebabkan karena global warming ini.

Di bawah teriknya mentari siang itu, Mitra berdiri di sisi jalan menunggu angkot untuk ia tumpangi menuju suatu tempat. Hatinya tak menentu. Kiranya tak ada jalan lain untuk membayar uang ujian semesternya kecuali menjual cincin emas miliknya satu-satunya itu.

Agak lama ia menunggu di sisi jalan tersebut, maklum siang hari agak jarang angkot yang beroperasi tidak seperti kala pagi hari dan sore. Dengan cemas ia masih menunggu di sisi jalan dengan kepala ia tutup menggunakan sapu tangan guna mengurangi teriknya mentari menghujam kepalanya.

Tunggu punya tunggu akhirnya lewat juga angkot yang dinanti-nanti. Dengan sigap ia memberikan tanda agar angkot tersebut berhenti untuk kemudian ia naik ke dalamnya. Tak banyak penumpang saat itu, hanya ada 4 orang, seorang lelaki setengah baya duduk di samping pak sopir dan seorang pelajar es em pe yang tampaknya ingin berangkat ke sekolah dan seorang wanita se usia dirinya.

Ia langsung duduk di salah satu sisi bangku yang tersedia. Mentari masih bersinar tanpa mengurangi teriknya. Disapu peluhnya yang mulai mengalir di dahinya dengan sapu tangannya.
“hmmm… panasnya siang ini,” gumamnya dalam hati

Dalam kegelisahannya, ia memutuskan untuk sejenak memejamkan mata sambil mengatur nafasnya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Ia mengembungkan perutnya tiap kali ia menarik nafas dan mengempiskan perutnya kembali ketika menghembuskannya. Proses pernafasan seperti ini disebut pernafasan perut dan sangat baik untuk kesehatan bukan hanya kesehatan raga tetapi jiwa pun tersentuh pula.

Dengan pernafasan yang teratur maka pikiran menjadi jernih sehingga dapat mengambil keputusan dengan  tepat. Ia masih memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.

“Geser mba, geser!,” suara sang sopir membuatnya sadar bahwa ia masih berada dalam angkot.
   
Ternyata ada penumpang yang hendak naik. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan menggeser letak duduknya. Dua orang wanita masuk dan duduk di sebelahnya. Ia tak memperhatikan ke duanya.

“Mitra?,” salah seorang wanita itu bertanya sambil memperhatikan wajahnya.

Mitra yang hampir memejamkan matanya kembali segera menoleh ke arah wanita tersebut. Nampak seorang wanita anggun nan ayu dengan balutan kemeja batik bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru duduk di sampingnya. Ia sepertinya mengenali wajah wanita itu, tapi…. Ia lupa namanya.

Tak mendapatkan jawaban apapun dari bibir Mitra, wanita itupun bertanya lagi

“kamu Mitra kan?”

“Betul, tante,” jawab Mitra sambil dengan mimik wajahnya yang agak bingung kenapa ada yang mengenalinya di kota Jakarta ini. Setahu dia, tak ada kerabatnya yang tinggal di Jakarta. Semua kerabatnya baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya tinggal di Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan ada yang tinggal di Bali. Dan di Jakarta ini, ia tinggal sendiri kost di dekat kampusnya.

Kepergiannya ke Jakarta memang demi mengejar cita-citanya meraih gelar sarjana pendidikan di salah satu universitas di Jakarta tepatnya di bilangan Jakarta Timur. Awalnya sang ayah tak mengijinkannya namun ia bersikeras bahwa ia ke Jakarta demi pendidikan bukan yang lain dan alasan itulah yang meluluhkan hati ayahnya sehingga merelakan anak perempuan satu-satunya itu merantau ke Jakarta sendirian.

“Apakah kau tidak mengenali aku,” tanya sang wanita sambil tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya ke arah Mitra.

“Tante Vidya?” sorak Mitra demi melihat gingsul wanita itu

Penumpang yang lain menengok ke arah mereka berdua.

Betapa senangnya hati Mitra siang itu bertemu dengan salah satu adik perempuan ayahnya.
Ternyata wanita yang bernama Vidya itu sejak beberapa bulan terakhir menetap di Jakarta timur juga tak jauh dari kampus Mitra yang terkenal sebagai salah satu kampus pencetak generasi pengajar di Indonesia.

Ia menetap di Jakarta karena mendapatkan tugas dari kantornya ia bekerja. Ia harus memimpin kantor yang merupakan kantor cabang perusahaan yang berpusat di Jawa Timur.

***
“Sudah lama aku mencari-cari kamu,” kata wanita muda itu ketika mereka akhirnya tiba di tempat kost Mitra.

“Ayah mu titip pesan kepada ku agar aku menjaga mu dan membantu bila mana kamu dalam kesulitan,” sambung wanita itu.

Wah… bak mendapatkan durian runtuh, Mitra akhirnya mengutarakan masalah yang tengah ia hadapinya. Ia segera menelpon ayahnya demi memberikan kabar bahwa ia telah bersama adiknya kini.

Sejak hari itu, Mitra tinggal bersama wanita yang ia panggil sebagai tante Vidya.

Malam itu Mitra bisa tidur dengan nyenyak dengan cincin peninggalan sang ibu yang melingkar di jari manisnya.



Image: Googel search
Flag Counter