Minggu, 27 Mei 2012

Suatu ketika bersama kekasih


“nanti dulu!!!....,” Satria menjawab dengan nada tinggi menanggapi ajakan sang kekasih, Shasha untuk pergi ke toko buku sesuai yang ia janjikan. Ia memang sedang tampak santai duduk menikmati sajian menu televisi di pagi itu.

Shasha yang juga tengah menikmati sajian yang sama sambil memijat punggung sang kekasih agak kaget mendengar jawaban yang ia dapat. Kontan saja raut wajahnya berubah, menjadi agak murung dan bertanya-tanya kenapa Satria bersikap seperti itu padanya.

Demi menyenangkan hati dan perasaannya sendiri, Shasha membuka-buka file di kepalanya dan mendapati jawaban sendiri atas pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

“mungkin ia lelah telah melakukan perjalanan jauh beberapa hari belakangan ini,” Shasha lamat-lamat menghibur dirinya atas sikap agak kasar Satria padanya. Ya, beberapa hari terakhir memang mereka harus melakukan perjalanan yang tidak bisa dibilang dekat dan tadi malam pun demikian. Malam tadi, untuk bulan ini perjalanan itu berakhir namun bulan selanjutnya akan ada perjalanan yang sama.

Shasha senang melakukan perjalanan itu bersama sang kekasih menuju Kekasih di atas Kekasih. Setiap perjalanan memberinya penghiburan tersendiri. Bertemu dengan aneka ragam orang di dalam bis ataupun kereta. Benar-benar unik di setiap perjalanannya. Pun di tempat tujuan, mereka bertemu dengan teman seperjalanan, benar-benar tak bisa dilukiskan betapa anugrah Sang Kekasih selalu mengguyuri perjalanan hidupnya.
***

Mendapati sikap agak kasar itu, Shasha tidak berhenti memijat sang kekasih. Ia tetap melanjutkan memijat punggung sang kekasih yang ia rasa agak kaku. Ia memang kerap memijatnya.

Ia tetap memijat punggung dan kemudian kepala, ia merasakan bahwa Satria memerlukan pijatan di kepalanya guna melancarkan aliran darah di daerah tersebut. Sambil terus memijat ia juga tak lupa mengingat Sang Kekasih, Kekasih dari Semua Kekasih.

Kekasihnya sering kali ia anggap sebagai bagian dari alatNya bagi dia untuk mengingatNya.

Agak terdengar tak masuk akal atau entah apa yang ada dalam benak Shasha, namun demikianlah lesson yang ia dapati selama mengikuti pertemuan-pertemuan dengan sebuah kelompok pejalan. Sang Guru di kelompok itu senantiasa mengingatkan bahwasanya apapun yang kita kerjakan hendaknya dijadikan latihan untuk selalu mengingatNya, toh segala apa yang ada adalah manifestasi dari Sang Kekasih itu sendiri.

Kini, mendapati suara keras Satria, Shasha berusaha mengatur nafasnya. Ia menarik nafas perlahan dan merasakan ada rasa agak dingin masuk melalui ke dua lubang hidungnya. Untuk selanjutnya ia membuang nafas dengan perlahan pula dan mencoba merasakan rasa agak hangat keluar melalui ke dua lubang hidung yang sama.

“rileks…. Santai…,” Shasha menenangkan dirinya sambil terus memijat sang kekasih.

Ia diam beberapa saat untuk kemudian berlalu menuju kamar kecil untuk membersihkan diri. Dalam benaknya terbersit sepatah kalimat indah “Enjoy Your Life Today Because Yesterday Has Gone and Tomorrow May Never Come.”



Image: Google search

Flag Counter