Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Mei 2021

Curhat seorang sobat


“Ha ha ha.... kamu pikir kamu sehebat itu? Pake bisa milih bentuk fisik segala ketika lahir!”

Suatu hari percakapan di antara dua orang sahabat terjadi. Penuh tawa...

“Iya, Sat. Aku pikir dulu begitu, he he he” Santo berkata sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sebenarnya.

“ Hebat kamu, San kalo bisa seperti itu. Bisa memilih bentuk fisik.” Sahut Satria yang masih ga percaya dengan ucapan sobatnya itu.

Pembicaraan mereka berkisar tentang reinkarnasi, kelahiran kembali.

“Dulu itu, aku berkesimpulan seperti itu setelah aku membaca buku Bapak Anand Krishna yang berjudul Reinkarnasi – hidup tak pernah berakhir.” Lanjut Santo mulai bercerita.

“Aku suka sekali dengan pembahasan dalam buku itu. Wah, sesuatu yang baru bagiku, tapi kok ya ga terasa seperti baru-baru amat. Aku langsung bisa menerima apa yang disampaikan oleh Bapak Anand Krishna dalam buku tersebut. Seperti mengaminkan, begitu.” Santo seperti sedang mengingat apa yang dijelaskan dalam buku yang ia sebut. Menerawang...

“Buku tersebut juga menjadi salah satu buku favorit ku, San. Kini buku tersebut diterbitkan kembali dengan pembahasan yang lebih luas. Judulnya Soul Awareness – Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi.” Sambut Satria dengan penuh antusias.

“Kapan-kapan aku pinjamkan ya. Aku sudah baca beberapa kali buku itu.”

Selasa, 18 Mei 2021

Masih sama

“Sat, kok kamu ga kemana-mana?”  suatu hari  Santo bertanya pada Satria, sahabatnya.

“Mau kemana? Kan aku ga ada keperluan untuk keluar rumah, bepergian. Jadi, aku ga kemana-mana.” Satria menjawabnya singkat dan jelas.

Satria memang bukanlah pemuda yang suka nongkrong atau berwindow shopping di mall atau di pusat perbelanjaan. Dia orang yang lebih suka menikmati waktunya sendiri di rumahnya saja.

Bepergian bila hanya ada keperluan saja, tak lebih dan tak kurang.

Tapi itu bukan berarti ia ga bergaul alias ga kenal dan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Tidak demikian.

“Dari dulu kamu kan sudah tahu kalau aku bukan orang yang suka wara-wiri ga karuan, tanpa tujuan, he he he,” lanjut Satria sambil cengengesan.

Santo hanya manggut-manggut saja.

Selasa, 02 Juli 2019

Tempat Meditasi Jakarta


“Sepi amat kayaknya hidup gua Sat”. suatu hari Santo mengeluh pada sahabatnya. Saat itu mereka duduk-duduk menikmati suasana sore hari di balkon belakang kamar Satria.

“Coba kamu telusuri San, apa yang kurang atau yang belum kamu lakukan.” Satria menjawab sambil meneguk segelas teh manis yang ada di hadapannya.

“Sesuatu yang ingin kamu lakukan tapi belum kamu lakukan.”Satria masih menambahkan.
“Tapi tentu saja sesuatu yang baik ya bukan hal yang buruk  dan pastinya ga ngerugiin siapa pun juga.”

Angin sepoi-sepoi menjadi saksi obrolan mereka sore yang cerah itu.

“Wah.. kalau itu sih banyak Sat. Gua pengen ngerjain banyak hal yang menurut gua baik tapi belum gua kerjain lantaran masih banyak kendala.” Santo ikut meneguk teh manis yang disuguhkan.
“Kendalanya pasti lu tau lah, selain dari sisi keuangan ada juga sisi mental. Gua ga cukup berani melakukan hal-hal itu.” Santo masih melanjutkan.

Sesekali terdengar suara pedagang makanan yang lewat menjajakan dagangan mereka.

“Mungkin kamu mesti mencoba mulai menyelami diri San.” Satria memberi sebuah solusi.
“Menyelami diri bagaimana Sat? emangnya diri gua ini kolem yang bisa diselami?” Santo agak guyon memandang wajah sahabatnya itu.

Yang dipandang malah mencibir.

“Wa ka ka ka ka ka …” Garing tuh San

Sabtu, 02 Februari 2019

Solusi dari Bapak Anand Krishna Agar Terhindar Dari Penyesalan

Jam 2 lewat dini hari saat itu ketika Santo terbangun dari tidurnya dan sulit untuk tidur kembali. Sejenak ia berpikir bahwa sudah beberapa kali dalam satu bulan belakangan ini hal itu terjadi padanya. Tidak seperti biasanya.

Ia pun bergegas pergi ke kamar mandi dan setelah itu menuju dapur untuk meneguk segelas air putih lalu kembali ke kamarnya. Tak ingin berlarut-larut dalam kegelisahannya, ia duduk bersila di atas tempat tidurnya. Berupaya untuk mencari tahu penyebab dari hal yang ia alami.

Santo mencoba untuk mengatur nafasnya sambil memejamkan mata dan masih dengan posisi duduk bersila di atas tempat tidurnya. Ia menarik nafas dan perutnya otomatis mengembung kemudian membuang nafas, perutnya mengempis, berkali-kali ia melakukan proses pernafasan itu yang ia ketahui dari menyimak video-video Bapak Anand Krishna di channel Youtube beliau dan juga buku-buku yang beliau tulis.

Masih melakukan proses pernafasannya, Santo perlahan-lahan bertanya pada dirinya sendiri (bertanya dalam hati) mengapa ia gelisah dan sering terbangun di tengah malam. Pertanyaan itu diulanginya terus menerus. Sudah lewat 15 menit, namun jawaban tak didapatinya. Detak jarum jam terdengar jelas di keheningan malam.

Santo tak berkecil hati. Ia terus melakukan proses pernafasan sambil terus bertanya. Ia bersikeras untuk menemukan jawaban dari kegelisahan yang ia alami akhir-akhir ini. Lamat-lamat ia teringat kata-kata Satria, sahabatnya; “Dalam salah satu wejangan Bapak Anand Krishna terkait pembahasan Bhagavad Gita, beliau mengatakan untuk tidak menunda niat baik dan menunda niat buruk karena pikiran kita mudah berubah.”

Terngiang-ngiang suara Satria masih melanjutkan: “Dalam penjelasan tentang Bhagavad Gita Percakapan 02 Ayat 31-41 yang mengambil tema besar Jangan Ragu Jalanilah Hidupmu Sesuai Kodratmu Itulah Yoga, Bapak AnandKrishna memaparkan bahwasanya bila kita memiliki niat baik atau ingin melakukan suatu hal yang baik maka hendaknya janganlah ditunda namun bila ada niat buruk maka kiranya ditunda hal ini berkaitan dengan pikiran kita yang mudah berubah.

Sabtu, 19 Januari 2019

Puisi untuk Bapak Anand Krishna


Minggu pagi yang sudah kelewat itu, Satria sedang asyik menikmati sarapan pagi yang tentu saja sudah terlambat. Maklum hingga larut malam ia berkutat dengan pembuatan konten video untuk akun youtubenya. Alhasil ia bangun kesiangan, tatkala jam di dindingnya menunjukkan pukul 8, ia baru bangun.

“Wah.. asyik bener tuh bubur ayamnya!” Tau-tau Santo muncul di hadapan Satria yang tengah sarapan bubur ayam sambil menonton tv.

“Iya nih San. Kalo kamu belum sarapan, gih pesan aja sana. Sekalian bayarin nih, aku juga belum bayar.” Santai Satria menjawab sambil mengulurkan tangannya dengan selembar uang Rp. 20.000

Bergegas Santo memesan bubur ayam dengan mangkok legendaris – berlogo ayam jago.

“Bang, jangan pake ayam, daun bawang dan kacang yah!” Santo memesan seraya  memberikan mangkoknya ke penjual bubur ayam itu.

“Siap mas!” Si penjual bubur menjawab mantap.

Keduanya pun menikmati bubur ayam di pagi yang telah terlewat itu di ruang tengah sambil menyaksikan acara tv.

“Eh San, kok pagi-pagi kamu ke sini? Jangan bilang kamu mau numpang sarapan yah!” Satria mulai bertanya.

“Lha... kan lu tau itu. Ha ha ha... itu alasan pertama Sat.” Santo menjawab dengan tertawa.

“Lantas, alasan lainnya apa, San?” “Aku mulai curiga nih!” Satria menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. 

Jumat, 24 Juli 2015

Menghargai sesama

Gambar dari Google
Siang kali itu. Terik sinar di siang hari membuat semua mahkluk tak menyangsikan lagi keberadaan matahari. Matahari memang sungguh berjasa bagi semua mahkluk walaupun terkadang sinarnya itu terasa menyengat di kulit kita.

Di teras rumahnya, Adit sedang ditemani sang kakak. Mereka ngobrol santai menikmati cuaca panas siang itu. Adit yang masih duduk di bangku kelas 2 smp, berambut cepak ala rambut polisi lalu lintas. Sedangkan sang kakak, Wawan sudah mulai masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang tak terlalu terkenal.

Keduanya mempunyai salah satu hobi yang sama, yakni ngerujak. Aneh ya, kok cowok-cowok hobinya ngerujak, kayak cewek aja.  Tapi, biarkan saja yah...

Siang itu pun mereka sedang menikmati rujak sederhana buatan sang ibu. Untung di pekarangan rumah mereka ada pohon jambu air dan mangga yang sedang berbuah, jadilah kedua buah-buahan tersebut bahan untuk rujak mereka. Hmm... pasti nikmat rasanya rujak buatan sang ibu.

“Dit, kamu itu kalau sedang makan sesuatu, apa siah yang terlintas di benakmu?” tanya sang kakak sambil membenarkan posisi duduknya mendekati mangkok rujak.

“Kok, kakak tanya seperti itu?” Adit sedikit menyeringai karena menjawab pertanyaan sang kakak dengan pertanyaan juga.

Rabu, 06 November 2013

Kucing Kecil

Gambar dari www.epriant.blogspot.com
Kucing kecil yang kuyu masih duduk di sudut jalan itu. Orang-orang lalu lalang melewatinya, tak ada yang peduli.  Bulu-bulunya yang  agak basah nampak kotor menambah buruk penampilannya.

Di kedua belah matanya, nampak kotoran berwarna hitam menyembul di kedua sudutnya. Si kucing berbulu abu-abu itu kian terlihat menderita tanpa seorang pun yang iba padanya.

Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, ia tengok kiri-kanan mencari tempat untuk menyelamatkan diri dari siraman hujan.  Mendadak sebuah motor melintas di sampingnya. Ia terkejut, hampir saja tubuh kecilnya terlindas benda bulat yang bergerak cepat tadi.

Ia terisak-isak menangisi nasibnya yang tak menyenangkan.

Tak dihiraukannya rintik-rintik hujan yang berubah menjadi hujan yang agak deras, ia perlahan-lahan berjalan mencari tempat berteduh. Setidaknya untuk malam ini dan ia juga berharap ada sisa-sisa makanan yang biasa ia temukan di sekitar tempat sampah tak jauh dari sudut jalan.

Antara rasa dingin yang menjalari tubuhnya dan rasa lapar yang dirasakanya bercampur aduk. Ia tetap mengais-ngais di tempat sampah meskipun hujan masih menderanya. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sisa makanan sore ini.

Ia tahu persis seorang pemilik rumah makan selalu membuang sisa-sisa makanan ke tempat sampah tersebut pada jam-jam tersebut. Maka dari itu ia tak mau sisa makanan tersebut diambil oleh kucing-kucing lainnya.
Ia harus cepat, pikirnya dalam hati.

Selasa, 29 Oktober 2013

Sudah jatuh, ketiban “anu”

Gambar dari catatankamis.blogspot.com  
Tersebutlah di suatu desa, orang sombong yang pelit bin koret buntut gasir. Tak pernah ia memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Ia memang terkenal sebagai orang yang sombong bin pedit di kampungnya.

Para tetangga, mulai tetangga dekat hingga tetangga jauh sudah tahu persis tingkah laku dan kesombongan serta kekikiran orang itu. Dengan harta yang tak seberapa memang dan tempat tinggal yang ala kadarnya namun orang itu selalu menyombongkan diri sebagai orang yang berpunya di kampungnya. Mulutnya yang sering membual sering membuat mual para pendengarnya.

Orang sekampung mencibirnya manakala ia menyombongkan diri di depan mereka. Tak bosan-bosannya ia membicarakan kekayaaannya yang konon bermilyar-milyar jumlahnya. Suatu kali ia berkata bahwa ia punya tabungan deposito di bank tertentu dalam bentuk emas batangan. Lalu di lain waktu ia pun menceritakan tabungannya di bank negara lain untuk simpanan masa depan katanya. Para pendengarnya tak menghiraukan apa pun yang ia bicarakan.

Huh…. Hanya meng-aku-aku saja tak ada bukti. Nihil. Padahal tetangganya pun tahu persis apa yang selalu ia konsumsi tiap hari. Makan di warung nasi yang murah demi menghemat alias pelit. 

Kamis, 24 Oktober 2013

Ibu

Gambar dari http://photoku-photokita.blogspot.com/
Saat menuliskan kalimat-kalimat ini, aku sedang terharu. Air mataku menjalari kedua pipiku yang agak chubby. Sudah kuusahakan agar tak ada air yang merembes dari mataku tapi aku tetap saja gagal seperti waktu-waktu lainnya. Teringat akan kejadian pagi tadi.

***
Satu minggu yang lalu

“Saya minta maaf bu, saat ini aku benar-benar tidak punya uang. Belum ada income yang seharusnya memang sudah masuk pertengahan bulan ini. Orangtua muridku meminta tenggat waktu sampai akhir bulan ini untuk membayar uang les anak-anak mereka.” Ucapku dengan penuh rasa tak enak.

Akhirnya dengan berat hati kuungkapkan juga kondisi keuanganku pada ibu. Memang sudah kewajibanku untuk membayar tagihan listrik tiap bulan dan biasanya kulunasi sebelum tanggal 10. Tapi apa daya, saat inu aku benar-benar tidak bisa memenuhi kewajiban itu.i

“Sudahlah, jangan kau pikirkan nak,” jawab ibu dengan nada penuh rasa simpati.
“Biar saja, untuk bulan ini tak usah kau bayarkan. Ibu masih ada uang arisan yang ibu dapat minggu lalu. Ibu kira cukup untuk melunasi tagihan listrik bulan ini. Coba kau cek dulu berapa tagihannya.” Lanjutnya.

“Terima kasih bu, nanti kalau aku sudah ada uang akan aku kembalikan uang ibu. Akhir bulan ini ya bu.” Sambutku dengan penuh rasa terima kasih. 

Rabu, 23 Oktober 2013

Kejujuran Wira

gambar dari  http://meditateinkansas.org/
“Sudahlah wira, cepat kau mandi. Nanti terlambat ke sekolah!” suara ibu terdengar dari arah dapur.
Pagi itu ibu sedang menyiapkan sarapan pagi. Rutinitas yang biasa ia lakukan sebelum ia pun berangkat mengajar.

“Baik ibu, sebentar lagi. Aku mau menyikat lantai kamar mandi dulu.”
“Aku pasti tak akan telat bu.” Wira menjawab dengan semangat.

Tak sampai setengah jam, Wira sudah siap berangkat ke sekolah dengan sepedanya. Maklum jarak sekolah dari rumahnya tidaklah jauh dan lebih nyaman baginya bersepeda daripada di antar sang ayah.

ia suka bersepeda ke sekolah bersama teman-temannya. Ayah mengantar ibu ke Sekolah Menengah Pertama, tempat ia mengajar sebelum akhirnya ia pergi ke kantor yang cukup jauh dari sekolah itu. 

Kamis, 10 Oktober 2013

Perempuan tua di sebuah taman

Gambar dari Google
Sehelai tisu berwarna putih polos jatuh tepat di hadapanku. Di saat yang sama pula seorang perempuan tua muncul di hadapanku. Ia duduk di kursi rodanya yang nampak sudah lama ia gunakan.

Perempuan tua itu memintaku untuk mengambil tisu yang jatuh di hadapanku itu. Kemudian disuruhnya pula aku membuang tisu itu ke dalam tong sampah yang tak jauh dari tempat kami berdua berada.

Dia meminta maaf telah merepotkanku katanya. Tak sengaja ia membuang selembar tisu polos itu ketika angin bertiup kencang membawa paksa tisu polos itu terbang dan jatuh di hadapanku.

Kala itu sore menjelang senja di sebuah taman umum. Taman yang dipergunakan sebagai lahan penghijauan kota. Taman yang seringkali menjadi tempat kumenghabiskan senja. Tempat yang menjadi favoritku berlama-lama. Tempat yang penuh kenangan manis dan pahitku bersama orang yang kukasihi.

Dulu, awalnya, aku suka berada di taman itu karena ia yang kukasihi. Seorang lelaki tampan (bagiku), baik hati tapi agak pemalu. 

Pertarungan siang itu....

dari Google
Ada rasa gatal di punggung. Rasanya ingin segera menggaruknya saja, tapi apa daya tangan tak sampai he he he. Kami perlu sebuah garpu untuk membantu kami menggapai tempat yang gatal tersebut.

Tapi, garpunya agak jauh, lagi pula saat ini ada orang lain di tempat ini. Jadi, kami mengurungkan niat membebaskan diri dari rasa gatal ini L

Itung punya itung, biasanya memang bila gatal, langsung kami garuk segera. Dan setelah itu rasanya nyaman, hilang gatalnya. Sekarang, saat ini, terpaksa menahannya beberapa saat.

Kami amati rasa gatal ini. Masih tetap gatal. Belum hilang. Tetap ada. Mungkin memang perlu diobati, alias digaruk.

Rabu, 28 November 2012

Obat jiwa (Katarsis)


“Kok gak diteruskan?” sebuah tanya muncul

“ah, malas…. Ceritanya jelek, aku sendiri ga tau mau nulis apa, padahal aku harus belajar menulis,” jawab ku sendiri agak ketus

“ya, kalau begitu menulis lah,” suara itu kembali 

“tapi aku ga tau mau nulis apa, kau lihat sendiri tadi aku sudah berupaya menulis, tapi… apa coba. Tulisan itu ku hapus kembali. Ku pikir itu jelek, ga ada artinya,” sambungku

Jumat, 16 November 2012

Sebuah Kisah di Negeri Antah Berantah


 Entah benar atau tidak, namun sepertinya sudah menjadi kepercayaan banyak orang bahwa bila mana seseorang menyakiti orang suci/bijak maka orang tersebut akan kena tulah atau kualat alias kena musibah. Entah itu penyakit ataupun sesuatu mengerikan yang lain. Sepertinya Sang Pangeran menjaga para suci atau para bijak dengan caraNya yang tak diduga-duga.

Sang Pangeran tidak rela bila para kekasihNya disakiti. IA memang tidak pilih kasih, sebetulnya kita memang tidak boleh menyakiti sesama mahlukNya terlebih para suci atau para bijak tersebut yang nota bene adalah kekasih Sang Pangeran.

Selasa, 13 November 2012

Denting itu


Denting suara angin bertiup yang memukul rangkaian besi-besi ringan yang digantung di sisi kiri atap rumah ku masih terdengar merdu. Aku sangat menikmati alunan suaranya. Aku tak peduli apa kata orang.

Pernah ada yang berkata bahwa suaranya bikin berisik saja, bikin orang ga bisa tidur dibuatnya. Klinting-klinting gak karuan. Ada juga yang berpendapat bahwa suaranya sih oke tapi kurang elegan bentuk rangkaian besi-besi yang tergantung di situ, coba diubah bentuknya sedikit dengan menggunakan sedikit ketrampilan pandai besi, pasti suaranya akan tepat dan pas.

Senin, 05 November 2012

Kusuma....


“cius? Mi apah?”

“ih…. Geli deh ndenger kamu ngomong kayak gitu, kamu tuh ga pantes tau? Ngomong kayak a be ge kek gitu,” cibir ku pada perempuan bernama Kusuma

“kenapa ga pantes?”

“kamu kan budhe ku, ya… jadi ga pantes aja kedengarannya,” sahut ku tak kurang ketusnya

Dari arah dapur, ibu ku segera menghampiri kami yang sedari tadi berada di ruang makan menghabiskan sarapan pagi kami sebelum akhirnya berangkat ke sekolah kami masing-masing.

Kamis, 01 November 2012

Tentang Rindu....


“Bravo!!! Keren banget sih kamu,”

Itu ucapan mu tatkala ku beri tahu bahwa buku ku sudah berhasil diterbitkan oleh salah satu penerbit terkemuka di negeri kita.

“Tapi… aku sih ga terlalu kaget karena sejak awal aku ketemu kamu, aku sudah punya feeling kalau suatu hari kamu akan jadi “orang besar”, he he he….” Lanjut mu membuat aku jadi geer mendengarnya.

Minggu, 27 Mei 2012

Suatu ketika bersama kekasih


“nanti dulu!!!....,” Satria menjawab dengan nada tinggi menanggapi ajakan sang kekasih, Shasha untuk pergi ke toko buku sesuai yang ia janjikan. Ia memang sedang tampak santai duduk menikmati sajian menu televisi di pagi itu.

Shasha yang juga tengah menikmati sajian yang sama sambil memijat punggung sang kekasih agak kaget mendengar jawaban yang ia dapat. Kontan saja raut wajahnya berubah, menjadi agak murung dan bertanya-tanya kenapa Satria bersikap seperti itu padanya.
Flag Counter