Tampilkan postingan dengan label puisi sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi sederhana. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Oktober 2021

Pada diriku


Hey...Langit biru cerah di atas sana

Burung-burung mendendangkan lagu ceria


Angin semilir berhembus 

sejuk ...

Suasana di sekitar sungguh indah


Hey

Tak kau rasakan semua?

Tak kau syukuri kah?

Tak kau pahami kah?

Selasa, 14 September 2021

Senin, 07 Desember 2020

Untuk mu para penyintas kanker


Minggu demi minggu berlalu

Aku bersyukur karena bisa bergabung

Dalam program seva untuk para penyintas kanker

 

Banyak pelajaran/hikmah yang aku dapatkan

Para penyintas kanker, kalian sungguh tangguh

Bahkan penyakit yang ada dalam tubuh

Tidak mematahkan semangat untuk terus berlatih meditasi bersama

 

Semangat yang membara

Harapan yang menggelora

Guna mengisi hidup dan kehidupan ini dengan penuh makna

 

Kamis, 11 Juli 2019

Pada Mu


Terima kasih
Tak terhingga
Rasanya tak cukup
Jua

Teramat banyak
Tak terhitung
Berkah dari Mu

Tak terbayangkan
Hal kecil
Pun hal-hal besar 

Jumat, 28 Juni 2019

Sungguh

Tiada yang tidak mungkin
BagiNYa segala bisa terjadi
Tak ada yang mustahil
BagiNya...

Suatu yang nampak mustahil
BagiNya hal yang amat kecil

Nampak jelas di depan mata
Dia memang Sang Maha Kuasa

Mungkin kelihatan susah
Tapi...
BagiNya teramat mudah

Jangan berhenti berharap padaNya
Teruslah berupaya dari waktu ke waktunya

Selasa, 05 Februari 2019

Pulang


Kala lelah menggelayut
Dan pikiran kusut
Namun tak ingin berlarut-larut

Tak ingin berkelana lebih lama
Karena isi dunia seperti ini adanya

Keluar masuk hutan belantara
Di tengah gemerlapnya kota
Yang ada tetaplah sama 

Sabtu, 19 Januari 2019

Puisi untuk Bapak Anand Krishna


Minggu pagi yang sudah kelewat itu, Satria sedang asyik menikmati sarapan pagi yang tentu saja sudah terlambat. Maklum hingga larut malam ia berkutat dengan pembuatan konten video untuk akun youtubenya. Alhasil ia bangun kesiangan, tatkala jam di dindingnya menunjukkan pukul 8, ia baru bangun.

“Wah.. asyik bener tuh bubur ayamnya!” Tau-tau Santo muncul di hadapan Satria yang tengah sarapan bubur ayam sambil menonton tv.

“Iya nih San. Kalo kamu belum sarapan, gih pesan aja sana. Sekalian bayarin nih, aku juga belum bayar.” Santai Satria menjawab sambil mengulurkan tangannya dengan selembar uang Rp. 20.000

Bergegas Santo memesan bubur ayam dengan mangkok legendaris – berlogo ayam jago.

“Bang, jangan pake ayam, daun bawang dan kacang yah!” Santo memesan seraya  memberikan mangkoknya ke penjual bubur ayam itu.

“Siap mas!” Si penjual bubur menjawab mantap.

Keduanya pun menikmati bubur ayam di pagi yang telah terlewat itu di ruang tengah sambil menyaksikan acara tv.

“Eh San, kok pagi-pagi kamu ke sini? Jangan bilang kamu mau numpang sarapan yah!” Satria mulai bertanya.

“Lha... kan lu tau itu. Ha ha ha... itu alasan pertama Sat.” Santo menjawab dengan tertawa.

“Lantas, alasan lainnya apa, San?” “Aku mulai curiga nih!” Satria menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. 
Flag Counter