Tampilkan postingan dengan label belajar bikin cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar bikin cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2020

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Terima Kasih

“Walah... pagi-pagi ngapain si Santo ini telp ya.” Satria bergumam sendiri seraya meraih handphonenya yang sedari tadi tergeletak di atas kasurnya.

“Sorry bos, gua terpaksa telpon lu, soalnya gua wa dari tadi malem belum lu baca.” Suara Santo terdengar rada-rada mau ketawa dia. Dia tau betul kalao sahabatnya itu ngga terlalu suka menerima telpon atao bicara di telpon. Kuping terasa panas, katanya.

“Iyah... aku belum selesai edit video nih dari tadi malem jadi ga sempet buka hp.” Singkat Satria menjawab.

“Iya, Sat. Gua mau minta tolong lagi ama lu yah. Tolong sampaikan puisi gua untuk Bapak AnandKrishna.” Kali ini suara Santo terdengar serius.

“Udah gua kirim ke email lu tadi malem, tolong ya bos.” Lanjut Santo masih dengan nada yang sama.

“Wis lah... aku ngga bisa nolak permintaan mu yang satu itu. Pasti akan aku sampaikan, tapi lewat blog aku yah seperti biasa.” Jawab Satria ikutan serius dia menanggapi permintaan sahabatnya itu.

Kamis, 24 Januari 2019

Yuk, Simak Bhagavad Gita oleh Bapak Anand Krishna, Mudah Dipahami Lhoo...

Sore itu, setelah pulang mengajar, Satria menuju ke kediaman sahabatnya yakni Santo. Ada keperluan karena Santo memintanya untuk membantu untuk setting email di laptopnya yang rada error.

Baru saja Satria duduk di salah satu bangku yang tersedia di kamar sahabatnya itu, ia rada tertegun melihat dua wayang yang terpasang di dinding kamar itu.

Wayang Shri Krishna dan Arjuna
“Eh, kapan kamu beli wayang-wayang itu San? Aku baru liat, kemarin-kemarin kayaknya belum ada.” Satria bertanya sambil menunjuk dua wayang yang terpasang di dinding kamar Santo.

“Itu udah lama banget Sat, kebetulan minggu lalu gua beres-beres gudang. Gua liat dua wayang itu ada di lemari gudang. Ya, sudah gua pasang aja di dinding ini.” Santo menjelaskan

“Wayang-wayang itu gua beli dari pedagang yang lewat Sat, tumben-tumbenan ada yang menjual wayang keliling.” Santo masih meneruskan kalimatnya.

“Nah, baru-baru ini gua kepikiran. Kok gua milih sosok wayang itu ya? Padahal penjual itu juga membawa beberapa sosok wayang lainnya. Apa mungkin karena di alam bawah sadar gua sudah ada rekaman dua sosok wayang itu ya, Sat?” Dengan nada yang tidak yakin, Santo bertanya pada Satria.

Jumat, 26 Oktober 2018

Suatu Hari: Dialog antara Aku dan Pikiran ku



“yah, lumayan lah tadi malam ku lihat kau sudah berani bicara.” Suara dalam pikiran ku mulai pembicaraan.

Padahal aku ga lagi melamun, aku lagi melakukan rutinitas seperti biasa.

“iya, karena agak terpaksa juga karena kan semua peserta yang hadir mesti bicara mengeluarkan opini masing-masing,” aq menjawab pikiranku itu.

“Tapi, aku perhatikan qm kok kayak ga konsen gitu sehingga apa yang kau lontarkan malah sama seperti pendapat temanmu itu.” Pikiranku membalas lagi dengan sedikit nada agak meledek kekuranganku dalam hal kurang ngeh.

“He he he... mungkin aku bisa saja menjawab mu dengan opini bahwa teman ku itu bicaranya melow dan aku ga terlalu mendengar apa yang ia ucapkan. Ia sedang melow.” Aku memberikan pembenaran pada pikiranku sendiri.

Jumat, 24 Juli 2015

Menghargai sesama

Gambar dari Google
Siang kali itu. Terik sinar di siang hari membuat semua mahkluk tak menyangsikan lagi keberadaan matahari. Matahari memang sungguh berjasa bagi semua mahkluk walaupun terkadang sinarnya itu terasa menyengat di kulit kita.

Di teras rumahnya, Adit sedang ditemani sang kakak. Mereka ngobrol santai menikmati cuaca panas siang itu. Adit yang masih duduk di bangku kelas 2 smp, berambut cepak ala rambut polisi lalu lintas. Sedangkan sang kakak, Wawan sudah mulai masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang tak terlalu terkenal.

Keduanya mempunyai salah satu hobi yang sama, yakni ngerujak. Aneh ya, kok cowok-cowok hobinya ngerujak, kayak cewek aja.  Tapi, biarkan saja yah...

Siang itu pun mereka sedang menikmati rujak sederhana buatan sang ibu. Untung di pekarangan rumah mereka ada pohon jambu air dan mangga yang sedang berbuah, jadilah kedua buah-buahan tersebut bahan untuk rujak mereka. Hmm... pasti nikmat rasanya rujak buatan sang ibu.

“Dit, kamu itu kalau sedang makan sesuatu, apa siah yang terlintas di benakmu?” tanya sang kakak sambil membenarkan posisi duduknya mendekati mangkok rujak.

“Kok, kakak tanya seperti itu?” Adit sedikit menyeringai karena menjawab pertanyaan sang kakak dengan pertanyaan juga.

Rabu, 06 November 2013

Kucing Kecil

Gambar dari www.epriant.blogspot.com
Kucing kecil yang kuyu masih duduk di sudut jalan itu. Orang-orang lalu lalang melewatinya, tak ada yang peduli.  Bulu-bulunya yang  agak basah nampak kotor menambah buruk penampilannya.

Di kedua belah matanya, nampak kotoran berwarna hitam menyembul di kedua sudutnya. Si kucing berbulu abu-abu itu kian terlihat menderita tanpa seorang pun yang iba padanya.

Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, ia tengok kiri-kanan mencari tempat untuk menyelamatkan diri dari siraman hujan.  Mendadak sebuah motor melintas di sampingnya. Ia terkejut, hampir saja tubuh kecilnya terlindas benda bulat yang bergerak cepat tadi.

Ia terisak-isak menangisi nasibnya yang tak menyenangkan.

Tak dihiraukannya rintik-rintik hujan yang berubah menjadi hujan yang agak deras, ia perlahan-lahan berjalan mencari tempat berteduh. Setidaknya untuk malam ini dan ia juga berharap ada sisa-sisa makanan yang biasa ia temukan di sekitar tempat sampah tak jauh dari sudut jalan.

Antara rasa dingin yang menjalari tubuhnya dan rasa lapar yang dirasakanya bercampur aduk. Ia tetap mengais-ngais di tempat sampah meskipun hujan masih menderanya. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sisa makanan sore ini.

Ia tahu persis seorang pemilik rumah makan selalu membuang sisa-sisa makanan ke tempat sampah tersebut pada jam-jam tersebut. Maka dari itu ia tak mau sisa makanan tersebut diambil oleh kucing-kucing lainnya.
Ia harus cepat, pikirnya dalam hati.

Selasa, 29 Oktober 2013

Sudah jatuh, ketiban “anu”

Gambar dari catatankamis.blogspot.com  
Tersebutlah di suatu desa, orang sombong yang pelit bin koret buntut gasir. Tak pernah ia memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Ia memang terkenal sebagai orang yang sombong bin pedit di kampungnya.

Para tetangga, mulai tetangga dekat hingga tetangga jauh sudah tahu persis tingkah laku dan kesombongan serta kekikiran orang itu. Dengan harta yang tak seberapa memang dan tempat tinggal yang ala kadarnya namun orang itu selalu menyombongkan diri sebagai orang yang berpunya di kampungnya. Mulutnya yang sering membual sering membuat mual para pendengarnya.

Orang sekampung mencibirnya manakala ia menyombongkan diri di depan mereka. Tak bosan-bosannya ia membicarakan kekayaaannya yang konon bermilyar-milyar jumlahnya. Suatu kali ia berkata bahwa ia punya tabungan deposito di bank tertentu dalam bentuk emas batangan. Lalu di lain waktu ia pun menceritakan tabungannya di bank negara lain untuk simpanan masa depan katanya. Para pendengarnya tak menghiraukan apa pun yang ia bicarakan.

Huh…. Hanya meng-aku-aku saja tak ada bukti. Nihil. Padahal tetangganya pun tahu persis apa yang selalu ia konsumsi tiap hari. Makan di warung nasi yang murah demi menghemat alias pelit. 

Kamis, 24 Oktober 2013

Ibu

Gambar dari http://photoku-photokita.blogspot.com/
Saat menuliskan kalimat-kalimat ini, aku sedang terharu. Air mataku menjalari kedua pipiku yang agak chubby. Sudah kuusahakan agar tak ada air yang merembes dari mataku tapi aku tetap saja gagal seperti waktu-waktu lainnya. Teringat akan kejadian pagi tadi.

***
Satu minggu yang lalu

“Saya minta maaf bu, saat ini aku benar-benar tidak punya uang. Belum ada income yang seharusnya memang sudah masuk pertengahan bulan ini. Orangtua muridku meminta tenggat waktu sampai akhir bulan ini untuk membayar uang les anak-anak mereka.” Ucapku dengan penuh rasa tak enak.

Akhirnya dengan berat hati kuungkapkan juga kondisi keuanganku pada ibu. Memang sudah kewajibanku untuk membayar tagihan listrik tiap bulan dan biasanya kulunasi sebelum tanggal 10. Tapi apa daya, saat inu aku benar-benar tidak bisa memenuhi kewajiban itu.i

“Sudahlah, jangan kau pikirkan nak,” jawab ibu dengan nada penuh rasa simpati.
“Biar saja, untuk bulan ini tak usah kau bayarkan. Ibu masih ada uang arisan yang ibu dapat minggu lalu. Ibu kira cukup untuk melunasi tagihan listrik bulan ini. Coba kau cek dulu berapa tagihannya.” Lanjutnya.

“Terima kasih bu, nanti kalau aku sudah ada uang akan aku kembalikan uang ibu. Akhir bulan ini ya bu.” Sambutku dengan penuh rasa terima kasih. 
Flag Counter