![]() |
| Terima Kasih |
“Walah... pagi-pagi
ngapain si Santo ini telp ya.” Satria bergumam sendiri seraya meraih
handphonenya yang sedari tadi tergeletak di atas kasurnya.
“Sorry bos, gua
terpaksa telpon lu, soalnya gua wa dari tadi malem belum lu baca.” Suara Santo
terdengar rada-rada mau ketawa dia. Dia tau betul kalao sahabatnya itu ngga
terlalu suka menerima telpon atao bicara di telpon. Kuping terasa panas,
katanya.
“Iyah... aku belum
selesai edit video nih dari tadi malem jadi ga sempet buka hp.” Singkat Satria
menjawab.
“Iya, Sat. Gua mau
minta tolong lagi ama lu yah. Tolong sampaikan puisi gua untuk Bapak AnandKrishna.” Kali ini suara Santo terdengar serius.
“Udah gua kirim ke
email lu tadi malem, tolong ya bos.” Lanjut Santo masih dengan nada yang sama.
“Wis lah... aku ngga
bisa nolak permintaan mu yang satu itu. Pasti akan aku sampaikan, tapi lewat
blog aku yah seperti biasa.” Jawab Satria ikutan serius dia menanggapi
permintaan sahabatnya itu.






