“Sepi amat kayaknya hidup gua Sat”. suatu hari Santo
mengeluh pada sahabatnya. Saat itu mereka duduk-duduk menikmati suasana sore hari
di balkon belakang kamar Satria.
“Coba kamu telusuri San, apa yang kurang atau yang belum
kamu lakukan.” Satria menjawab sambil meneguk segelas teh manis yang ada di
hadapannya.
“Sesuatu yang ingin kamu lakukan tapi belum kamu lakukan.”Satria
masih menambahkan.
“Tapi tentu saja sesuatu yang baik ya bukan hal yang
buruk dan pastinya ga ngerugiin siapa
pun juga.”
Angin sepoi-sepoi menjadi saksi obrolan mereka sore yang
cerah itu.
“Wah.. kalau itu sih banyak Sat. Gua pengen ngerjain banyak
hal yang menurut gua baik tapi belum gua kerjain lantaran masih banyak kendala.”
Santo ikut meneguk teh manis yang disuguhkan.
“Kendalanya pasti lu tau lah, selain dari sisi keuangan ada
juga sisi mental. Gua ga cukup berani melakukan hal-hal itu.” Santo masih
melanjutkan.
Sesekali terdengar suara pedagang makanan yang lewat
menjajakan dagangan mereka.
“Mungkin kamu mesti mencoba mulai menyelami diri San.”
Satria memberi sebuah solusi.
“Menyelami diri bagaimana Sat? emangnya diri gua ini kolem
yang bisa diselami?” Santo agak guyon memandang wajah sahabatnya itu.
Yang dipandang malah mencibir.
“Wa ka ka ka ka ka …” Garing tuh San

