Tampilkan postingan dengan label Menulis Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2019

Cara Mengatasi Baper ala Bapak Anand Krishna


“Siang-siang begini ngapain yah!” Santo bergumam sendiri sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.

Sepi suasana siang itu di rumahnya. Ibu dan adik perempuannya sedang mengunjungi kerabat di bilangan Karawang, Jawa Barat. Hal yang rutin dilakukan oleh ibu dan adik perempuannya itu sebulan sekali.

Karena Santo kali ini tak mau ikut serta, ya… jadilah ia sendiri saja di rumah.

Terkadang terdengar suara pedagang makan yang lewat. Ketika ada pedagang ketoprak yang lewat, ia pun bergumam lagi.

“Mau isi perut dulu ah.” Seraya membawa piring kosong dari dapur, ia agak berteriak
“Tunggu bang. Ketoprak!”

Si pedagang ketoprak yang merupakan langganan Santo pun berhenti sambil berkata “siap mas. Biasa yah?”

“Sip bang, seperti biasa tapi kali ini ga usah pake cabe yah soalnya lagi ngga beres nih perut,” Santo menimpali si abang ketoprak.

Dengan sigap si pedagang ketoprak itu mulai meracik pesanan Santo, pelanggannya. Kesigapan dan gaya sang pedagang membuktikan bahwa ia adalah pedagang yang mumpuni, sudah malang melintang di dunia perketoprakan, dunia yang ia kuasai.

Pertama-tama bawang putih diulek di atas piring, lalu tambahkan bumbu kacang. Tambahkan air. Aduk-aduk hingga tercampur rata. Selanjutnya masukkan potongan tahu goreng, bihun, irisan timun, toge dan lontong atau ketupat. Terakhir, diberi taburan bawang goreng dan kerupuk.  Semua dimasukkan di dalam satu piring.

Tak beberapa lama, pesanan Santo pun sudah selesai dibuat.

“Wis… terima kasih bang,” ujar Santo seraya menyerahkan selembar uang sepuluh ribu ke si pedagang.

Kamis, 24 Januari 2019

Yuk, Simak Bhagavad Gita oleh Bapak Anand Krishna, Mudah Dipahami Lhoo...

Sore itu, setelah pulang mengajar, Satria menuju ke kediaman sahabatnya yakni Santo. Ada keperluan karena Santo memintanya untuk membantu untuk setting email di laptopnya yang rada error.

Baru saja Satria duduk di salah satu bangku yang tersedia di kamar sahabatnya itu, ia rada tertegun melihat dua wayang yang terpasang di dinding kamar itu.

Wayang Shri Krishna dan Arjuna
“Eh, kapan kamu beli wayang-wayang itu San? Aku baru liat, kemarin-kemarin kayaknya belum ada.” Satria bertanya sambil menunjuk dua wayang yang terpasang di dinding kamar Santo.

“Itu udah lama banget Sat, kebetulan minggu lalu gua beres-beres gudang. Gua liat dua wayang itu ada di lemari gudang. Ya, sudah gua pasang aja di dinding ini.” Santo menjelaskan

“Wayang-wayang itu gua beli dari pedagang yang lewat Sat, tumben-tumbenan ada yang menjual wayang keliling.” Santo masih meneruskan kalimatnya.

“Nah, baru-baru ini gua kepikiran. Kok gua milih sosok wayang itu ya? Padahal penjual itu juga membawa beberapa sosok wayang lainnya. Apa mungkin karena di alam bawah sadar gua sudah ada rekaman dua sosok wayang itu ya, Sat?” Dengan nada yang tidak yakin, Santo bertanya pada Satria.

Sabtu, 19 Januari 2019

Puisi untuk Bapak Anand Krishna


Minggu pagi yang sudah kelewat itu, Satria sedang asyik menikmati sarapan pagi yang tentu saja sudah terlambat. Maklum hingga larut malam ia berkutat dengan pembuatan konten video untuk akun youtubenya. Alhasil ia bangun kesiangan, tatkala jam di dindingnya menunjukkan pukul 8, ia baru bangun.

“Wah.. asyik bener tuh bubur ayamnya!” Tau-tau Santo muncul di hadapan Satria yang tengah sarapan bubur ayam sambil menonton tv.

“Iya nih San. Kalo kamu belum sarapan, gih pesan aja sana. Sekalian bayarin nih, aku juga belum bayar.” Santai Satria menjawab sambil mengulurkan tangannya dengan selembar uang Rp. 20.000

Bergegas Santo memesan bubur ayam dengan mangkok legendaris – berlogo ayam jago.

“Bang, jangan pake ayam, daun bawang dan kacang yah!” Santo memesan seraya  memberikan mangkoknya ke penjual bubur ayam itu.

“Siap mas!” Si penjual bubur menjawab mantap.

Keduanya pun menikmati bubur ayam di pagi yang telah terlewat itu di ruang tengah sambil menyaksikan acara tv.

“Eh San, kok pagi-pagi kamu ke sini? Jangan bilang kamu mau numpang sarapan yah!” Satria mulai bertanya.

“Lha... kan lu tau itu. Ha ha ha... itu alasan pertama Sat.” Santo menjawab dengan tertawa.

“Lantas, alasan lainnya apa, San?” “Aku mulai curiga nih!” Satria menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. 

Rabu, 21 November 2018

Kegaduhan di Lemari Rahayu



Siang kala itu, suasana tenang dan adem-adem saja seperti biasanya. Tiba-tiba...

“Hey... Ungu... kenapa kau nampak sedih?” si baju hitam bertanya pada kaos ungu

“Aku sedih memikirkan si Abu-abu yang kemarin hilang bersama si batik merah muda dan batik hijau, pingin nangis saja aku rasanya.” Si kaos ungu tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca

“Iya... aku juga kehilangan dia, aku kangen.” Sahut si batik biru ikut nimbrung pembicaraan.

Suasana jadi ramai

“Si Abu-abu itu celana panjang yang baik, ia tidak congkak bilamana dipadankan dengan aku yang hanya kaos biasa ini,” timpal si Ungu tambah sedih dia.

“Benar kamu Ungu, tapi aku juga kehilangan si batik merah muda dan si batik hijau itu. Mereka kan lebih dahulu di sini dari pada aku.” Kini giliran si batik kembang-kembang ikutan.

“Si driver itu jahat ya, aku ga suka dengan driver seperti itu. Kok barang penumpang bisa hilang, bisa jatuh. Berarti dia itu ga bisa jagain amanah. Ga baik orang kayak gitu. Aku ga suka.” Panjang lebar si celana putih membeberkan pendapatnya.
Flag Counter