Ternyata emosi kemarahan itu bisa membunuh, bisa menghancurkan apa-apa yang tidak ingin kita hancurkan saat kita dalam keadaan tenang.
Ya, emosi amarah itu berbahaya. Sang Buddha mengatakan bahwa dengan emosi marah kita sebenarnya membakar diri sendiri dan emosi amarah yang ada dalam diri sebenarnya meracuni diri kita sendiri namun kita berharap orang lain yang mati dengan racun tersebut.
Sungguh benar memang ucapan sang Buddha.
Terakhir kali menyaksikan episode-episode terakhir serial televisi Mahabharata ditampilkan sang raja Hastinapura, Dretarastra yang dipenuhi amarah lantaran semua anak-anaknya yang berjumlah 100 orang dibunuh oleh Bima dalam perang Mahabharata.
Ia sungguh marah besar pada keponakannya itu. Saat bertemu dengan kelima anak adiknya itu yakni 5 pandawa ia berniat untuk membunuh Bima dengan cara meremukkannya ketika ia memeluk Bima.
Bima sungguh terkejut ketika ia mendapati bahwa sang raja betul-betul marah lantaran ia telah membunuh semua anaknya. Ia dapati hal itu ketika sang raja memeluknya pertama kali. Dan kemudian sang raja dengan emosi marah yang tampak jelas menginginkan agar Bima mendekatinya kembali guna memeluknya.
Tampilkan postingan dengan label Kelompok meditasi di Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelompok meditasi di Jakarta. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Januari 2015
Rabu, 06 Februari 2013
Berlatih untuk bersyukur dengan meditasi
![]() |
| taken from www.blog.anandashram.asia |
Well, itu nampaknya karena kita selalu melihat yang tidak
ada pada kita, kita selalu melihat ke atas untuk hal-hal yang bersifat materi
tersebut. Tetangga kita punya mobil kok kita ga punya; kayak gitu contohnya.
Tapi satu hal yang mesti disadari bahwa kita
masing-masing mempunyai nasib yang tentunya kita tentukan sendiri kadarnya. Orang
lain bisa berkecukupan atau bahkan berlebih dalam hal harta itu pasti karena
mereka bekerja keras untuk itu atau bahkan memang karma baik yang mereka miliki
dalam masa kehidupan ini.
Minggu, 03 Februari 2013
Stress dan Cara mengatasinya
Stress?
Siapa juga yang tidak disapanya?
Mulai dari anak-anak usia sekolah yang dibebani untuk
meraih nilai terbaik oleh para orang tua, sampai pada orang dewasa dengan
berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaannya.
Stress memang nampaknya menjadi hal yang rentan sekali
bagi siapapun tak pandang usia, pendidikan, agama, budaya ataupun strata social.
Semua tanpa kecuali beresiko mengalami stress.
Bahkan pada jaman serba instan ini, resiko itu kian
tinggi saja.
Mungkin kita selalu menolak bila seorang kawan memberikan
komen bahwa kita sedang stress karena mengingat konotasi stress itu tak ubahnya
kata gila. Padahal tidaklah demikian, stress bukan berarti gila tapi melainkan
lebih kepada situasi mental kita yang sedang mengalami tekanan atau pressure
sehingga menyebabkan kita sulit untuk mengambil keputusan atau membuat kita tak
bisa berfikir dengan jernih sehingga tindakan kita menjadi kacau.
Rabu, 04 Januari 2012
Latihan untuk menemukan kabahagiaan dalam diri
Selasa malam tepatnya 3 January 2012 pukul 19.00 kami
kembali mengikuti l salah satu atihan program Neo Self Empowerment yang
diselenggarakan di salah satu Ashram dari Yayasan Anand Ashram (berafiliasi
dengan PBB sejak 2006) di bilangan Sunter Mas Barat, Jakarta Utara.
Tempat tersebut memang sengaja didirikan oleh Bapak Anand
Krishna yang dikenal sebagai seorang tokoh spiritual lintas agama dan juga
seorang penulis buku-buku spiritual dan kebangsaan yang produktif. Anand Ashram
memang dimaksudkan oleh beliau sebagai tempat untuk memfasilitasi orang-orang
yang ingin memberdaya diri.
Langganan:
Postingan (Atom)

