Tampilkan postingan dengan label Amarah dan cara mengatasinya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amarah dan cara mengatasinya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

Pagi ini

Gambar dari Google
Hmm... pagi ini ada dua kejadian yang kurang menyenangkan bagi kami.

Pertama, kami naik angkot yang sopirnya lambat. Sebenarnya kami sudah kapok naik angkot yang sopirnya si bapak itu (kami ga kenal namanya). Tapi, kami ga tau ternyata pas kami sudah duduk, eh si sopir itu lagi yang bikin kami kapok penumpang angkotnya.

Dia sih bilang untuk menunggu karena dia cari penumpang maklum hanya kami penumpangnya.
Kami sudah ga sabar, di pintu keluar terminal Lebak Bulus kami sudah siapkan uang receh untuk membayarnya dan ganti angkot. Tapi, mungkin dia tahu kami sudah marah dan ingin turun. Akhirnya dia membawa angkotnya.

Lama banget, perjalanan dari terminal Lebak Bulus ke Pasar Jum’at makan waktu 10 menit. Padahal jaraknya kan dekat banget. Emang tuh bapak ngetemnya lama.

Kami bertekad untuk tidak menggunakan angkotnya lagi kecuali kalau pulang kerja.

Kedua; kami memarahi (ga terlalu sih) petugas di salah satu apotek terkenal yang dekat tempat kami bekerja. Menurut kami dia termasuk petugas baru yang ditugaskan di apotek tersebut (karena kami baru beberapa kali melihatnya).

Senin, 25 Februari 2013

Mengatasi Amarah yang Terpendam

Dari comedyrants.com 

Ku kira rasa sakit hati itu telah hilang. Pupus begitu saja tatkala kata maaf keluar dari mulut orang itu. ku kira amarah yang ada dalam diri telah hilang bak uap yang menguap seiring angin menghalaunya.

Ternyata tidak. Rasa sakit hati itu, rasa dendam itu, amarah itu masih ada. Mengendap. Terdesak perlahan ke bawah alam bawah sadar ku. Ya, semua rasa di atas itu masih ada dan aku menyadari tatkala ku lihat orang yang telah menabrak ku lewat di depan mata ku.

Amarah itu muncul begitu saja saat ku lihat orang itu. Aku yakin orang itu mengingat betul wajah ku, orang yang kemarin telah ia tabrak dan ia tak meminta maaf sebelum seorang preman hendak menghujamkan kepalan tangannya dengan tak sabar ke wajahnya.

Uh…. Sungguh sebel, marah aku pada orang itu. kenapa kemarin tak ku biarkan saja para preman menghajarnya habis-habisan?  Aku bertanya-tanya dalam hati. Tak puas rasanya melihat orang itu hanya minta maaf dan berlalu begitu saja.

Flag Counter