Siang yang cerah diselingi dengan hembusan angin yang
semilir, di teras rumah Satria di bilangan Jakarta selatan itu Satria dan teman
karibnya Santo sedang ngobrol santai.
“Sat, sepupuku, Rahayu pernah cerita bahwa suatu kali dia
pernah lompat dari kendaraan yang ditumpanginya karena saat itu di kendaraan
tersebut ada orang yang berantem. Nah, dia lompat karena takut kena pukulan
atau sasaran orang yang berantem itu. Untungnya laju kendaraan itu tak terlalu
kencang katanya.” Santo mulai bercerita kepada Satria.
Satria yang duduk nggelosor di lantai, sambil sesekali
nyeruput kopi pahit kesukaannya itu mendengarkan sahabatnya dengan seksama.
“Sebelum dia lompat, dia sempat menyebut salah satu
namaNya. Hup, dia lompat. Nyusruk lah dia di atas jalanan yang beraspal.
Untungnya tak ada kendaraan lain di belakang kendaraan tadi. Kemudian, dia
bilang tiba-tiba ada yang membantunya berdiri. Setelah sepupuku itu berdiri,
dia ingin ucapkan terima kasih kepada orang yang menolongnya tadi, tapi setelah
ia tengok kiri kanan tapi kok ga ada orang.” Santo masih melanjutkan cerita
tentang sepupunya itu.
